Buletin Perinasia

Buletin Perinasia 4.gif

 

 

 

 

Tahun I, Nomor 1, Edisi Juli-Agustus
2010

 

 

 

 

Dari Redaksi …

Dengan ijin Allah SWT. kami menerbitkan buletin
Perinasia Jawa Barat edisi perdana yang antara

lain memuat beberapa artikel kiriman dari anggota
Perinasia Jawa Barat.

Pengurus Perinasia Jabar juga menghimbau para Sejawat
yang berminat untuk menjadi

anggota diharap mengisi formulir yang ada di halaman
terakhir.

Redaksi juga menerima tulisan popular berupa
pengalaman, anekdot, dll. untuk mengisi buletin terbitan selanjutnya.

Menghadapi bulan suci Ramadhan, segenap redaksi
Buletin Perinasia Jawa Barat mengucapkan selamat menunaikan ibadah Puasa,

mohon maaf lahir dan batin.

Terima Kasih

Redaksi

—————
>>><<< —————

 

Pemprov Jabar Ingin Tingkatkan Tenaga Kesehatan Terampil sebagai target
pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) 2015

 

 

 

Oleh: Dr. Anita D Anwar, dr., SpOG(K)

(Anggota Perinasia Jabar,
staf Fetomaternal Obstetri Ginekologi RSHS, Bandung)

dr debi.jpgLatar Belakang

Kemajuan suatu negara dapat dilihat
dari suatu indikator yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human
Development Index (HDI). Sektor kesehatan merupakan salah satu komponen penting
dari tiga komponen pendukung angka IPM tersebut, yaitu kesehatan, ekonomi dan
pendidikan. Dalam pelaksanaannya, pembangunan kesehatan memiliki Visi yaitu
INDONESIA SEHAT 2015, dengan upaya peningkatan derajat kesehatan lewat berbagai
upaya kesehatan mencakup kuratif, rehabilitatif, preventif, dan promotif.
Pembangunan kesehatan dengan PARADIGMA SEHAT, memacu pembangunan kesehatan
lebih menekankan upaya preventif dan promotif, melalui peningkatan kesehatan
lingkungan, peningkatan konsumsi gizi seimbang, dan peningkatan pengetahuan
masyarakat terhadap aspek hidup bersih dan sehat.

 

Gubernur Jawa Barat, mengatakan bahwa
Jawa Barat (Jabar) dengan jumlah penduduknya yang besar, memiliki tingkat
kematian bayi dan ibu melahirkan yang sangat tinggi. Untuk mengatasi masalah
itu, Jabar membutuhkan banyak tenaga kesehatan terutama tenaga bidan terampil
khususnya di desa-desa terpencil. Jabar kaya akan sumber daya alamnya, tetapi
kurang bisa mengelola dengan baik. “Kami telah



bekerjasama dengan
Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mencetak bidan-bidan yang mumpuni.
Diharapkan dengan melahirkan lulusan tenaga bidan yang mampu mengelola Jabar
ini dengan baik maka akan dapat meningkatkan kualitas dan kesejahteraan
masyarakat Jabar”, ujar Ahmad Heryawan.

 

Millenium Development
Goals atau disingkat MDG’s merupakan kesepakatan yang lahir pada tahun 2000 dan
diprakarsai oleh 189 negara PBB, termasuk dihadiri oleh Presiden RI. Secara
umum MDG’S bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia dan
merupakan

tantangan utama dalam
pembangunan di seluruh dunia.

 

 

 

Delapan sasaran yang
diupayakan dalam pencapaian tahun 2015, adalah :

1.     Penghapusan kemiskinan dan kelaparan;
antara lain mengurangi jumlah penduduk yang hidup dengan kurang dari satu dollar
per hari dan kelaparan sampai 50 persen.

2.     Mewujudkan pendidikan dasar bagi
semua untuk semua anak perempuan dan laki-laki.

3.     Mendorong kesetaraan jender dan
pemberdayaan perempuan; antara lain menghapuskan ketidaksetaraan jender di
semua tingkat pendidikan.

4.     Mengurangi angka kematian anak:
mengurangi dua pertiga angka kematian anak di bawah usia lima tahun.

5.     Meningkatkan kesehatan ibu: antara
lain mengurangi dua pertiga angka kematian ibu melahirkan dan akses universal
kepada pelayanan kesehatan reproduksi dan jaminan ketersediaan kontrasepsi.

6.     Menghentikan dan mengurangi laju
penyebaran HIV/AIDS, malaria, dan penyakit infeksi lain.

7.     Menjamin keberlanjutan lingkungan;
antara lain dengan mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam
kebijakan dan progam-program secara nasional, mengurangi perusakan sumber daya
alam, memenuhi akses kepada air bersih pada setengah jumlah penduduk yang belum
memperolehnya.

8.     Mengembangkan kemitraan global untuk
pembangunan; antara lain, mengembangkan sistem perdagangan dan keuangan yang
terbuka, melaksanakan komitmen tata pemerintahan yang baik, pembangunan dan
pemberantasan kemiskinan; menuntaskan utang Negara berkembang; kerja sama
dengan perusahaan-perusahaan farmasi untuk menyediakan obat-obatan penting
dengan harga terjangkau di negara-negara berkembang.

 

Upaya yang
dilakukan

Jumlah tenaga medis
yang ada sekarang ini di wilayah Jabar tidak tersebar merata. Akibatnya terjadi
ketimpangan tingkat kesehatan di beberapa wilayah. Pembangunan infrastruktur
kesehatan masih berbasis administratif, seharusnya berbasis jumlah penduduk,
karena diharapkan sarana dan prasarana kesehatan di masyarakat, sesuai dengan
jumlah penduduk berarti pemerataan layanan di bidang kesehatan. Ketidakmerataan
layanan kesehatan karena sebagian besar hanya mau ditempatkan di kota-kota
besar.

Dalam rangka
meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Jawa Barat, Pemerintah Provinsi
Jawa Barat (Pemprov Jabar) melakukan penandatanganan adendum terhadap kesepakatan
bersama antara Pemprov Jabar dengan Unpad tentang Kerja Sama di Bidang
Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat yang ditandatanganan
oleh Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan Rektor Unpad Prof. Ganjar Kurnia. Acara
ini berlangsung di Executive Lounge, Gedung Rektorat Baru Lantai 2, Jl. Dipati
Ukur No. 35 Bandung, Senin (20/04). Kali ini Pemprov Jabar melalui Dinas
Kesehatan Provinsi Jabar bekerjasama dengan Unpad untuk bidang pendidikan
tenaga kebidanan, kedokteran, baik dokter umum maupun dokter spesialis, tenaga
kedokteran gigi, dan tenaga farmasi. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi
Jabar dr. Hj. Alma Lucyati, MKes, MSi, MHKes menjelaskan bahwa mulai tahun ini
Pemprov Jabar melalui Dinkes akan memberikan beasiswa kepada 1.000 orang bidan
untuk menjalani pendidikan di Unpad, yaitu 400 bidan dari tingkat D-1 untuk
melanjutkan ke D-4 dan 600 bidan dari lulusan SMA. Selain itu Pemprov juga akan
memberikan beasiswa kepada calon dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi,
dan apoteker.

 

Beasiswa ini
diberikan kepada orang-orang yang berasal dari daerah yang membutuhkan dan akan
dikembalikan lagi kepada daerahnya untuk mengabdi disana setelah selesai
pendidikannya. Selain beasiswa ini, Pemprov juga akan memberi tunjangan dan
fasilitas lain seperti rumah dinas dan kendaraan untuk memberi kemudahan dan
kenyamanan bagi mereka dalam memberikan pelayanan di daerah, jelas dr. Alma.
Nantinya, ketika bidan-bidan tersebut lulus, mereka akan ditempatkan di
daerah-daerah yang membutuhkan tenaga medis. “Untuk tahun ini dari target 1.000
bidan, kami baru bisa menyekolahkan 300 bidan. Tahun depan, kami akan
menggenapi 1000 bidan tersebut dengan memberikan beasiswa bagi lulusan SMA/MA
yang berminat di bidang kesehatan, khususnya bidan.

 

Dengan langkah ini
diharapkan ketersediaan tenaga medis di Jabar akan terpenuhi. Di setiap desa
akan terdapat minimal 2 bidan, sambungnya.

 

Dalam kesempatan ini
juga dilakukan penandatangan nota kesepahaman antara Unpad dengan beberapa
instistusi pendidikan kesehatan di Jabar. Institusi-institusi tersebut adalah
Stikes Bina Putra Banjar, Stikes Muhammadiyah Ciamis, Politeknik Kesehatan
Depkes Tasikmalaya, Stikes Dharma Husada Bandung dan Politeknik Kesehatan Bandung.

 

Hal
ini disampaikan pada k
uliah Perdana yang dihadiri
Pembantu Rektor Bidang Kerja Sama, Prof. Dr. Tb. Zulrizka Iskandar, S.Psi.,
M.Sc., Dekan FK Unpad, Eri Surahman, dr., SpAn-KNA, salah satu Guru Besar FK
Unpad, Prof. Hidayat Widjajanegara, dr., Sp.OG., Direktur Kerjasama Unpad, dr.
Ramdan Panigoro, Ph.D., dan segenap sivitas akademika Unpad.

 

Target MDGs 4 dan
5 pada tahun 2015

Dalam rangka
pencapaian agenda MDG’S yang terkait secara langsung terhadap kesehatan, telah
dilakukan berbagai upaya yang terencana dituangkan baik dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (
RPJMN)
2004-2009 maupun dalam RPJM 2010-2014.
Disebutkan sasaran yang ditetapkan antara lain: meningkatnya Umur Harapan
Hidup menjadi 72 tahun, menurunnya Angka Kematian Bayi menjadi 24 per 1000
kelahiran hidup, menurunnya Angka Kematian Ibu menjadi 118 per 100.000
kelahiran hidup, dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita menjadi
15%.

 

Berdasarkan Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007, angka kematian ibu masih
tinggi, yakni 228 per 100.000 kelahiran hidup.
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia telah mengalami penurunan menjadi
307 per 100.000 kelahiran hidup (1998-2002). Tetapi dengan 20.000 ibu yang
meninggal setiap tahun akibat komplikasi kehamilan atau persalinan, pencapaian
target MDG akan dapat terwujud hanya jika dilakukan upaya yang lebih intensif
untuk mempercepat laju penurunannya.

Tujuan pembangunan milenium (MDG), mengharapkan angka kematian ibu (AKI) pada
2015 ditargetkan turun menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup.

 

Disparitas
kematian ibu antar wilayah di Indonesia
masih cukup besar dan masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan
negara-negara anggota ASEAN misalnya risiko kematian ibu karena melahirkan di
Indonesia adalah 1 dari 65, dibandingkan dengan 1 dari 1.100 di Thailand.

 

Penyebab
kematian ibu
yang utama adalah
perdarahan, eklampsia, partus lama, komplikasi aborsi, dan infeksi. Kontribusi
dari penyebab kematian ibu tersebut masing-masing adalah perdarahan 28 persen,
eklampsia 13 persen, aborsi yang tidak aman 11 persen, serta sepsis 10 persen.
Risiko kematian ibu makin besar dengan adanya anemia, kekurangan energi kronik
(KEK), dan penyakit menular seperti malaria, tuberkulosis (TB), hepatitis dan
HIV/AIDS. Pada tahun 2002 prevalensi anemia 51 persen pada kehamilan dan 45
persen pada masa nifas, 17,6 persen menderita KEK .

Kontrasepsi
modern memainkan peranan penting untuk menurunkan kehamilan yang tidak
diinginkan. Pada tahun 1997, tingkat pemakaian kontrasepsi pada perempuan kawin
usia 15-49 tahun hanya 57,4 persen dan meningkat menjadi 60,3 persen pada tahun
2002-2003 (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003).

 

Pertolongan
persalinan oleh petugas kesehatan terlatih
terus
mengalami peningkatan hingga mencapai 71,52 persen pada tahun 2004. Akan
tetapi, proporsi ini bervariasi antar propinsi. Proporsi ini juga bervariasi
mengikuti tingkat pendapatan. Pada tahun 2002, ibu dengan pendapatan lebih
tinggi, 89,2 persen kelahirannya ditolong oleh tenaga kesehatan berbanding
dengan 21,3% pada golongan berpendapatan rendah.

 

Keterlambatan
rujukan, transportasi, dan tidak meratanya distribusi tenaga terlatih terutama
bidan berkontribusi secara tidak langsung terhadap kematian ibu.Tantangan penduduk
masa yang akan datang dengan proporsi wanita usia subur yang lebih tinggi
menyebabkan kebutuhan akan pelayanan kesehatan meningkat.

 

Desentralisasi
bidang kesehatan
pada saat ini masih
belum secara jelas mendefinsikan peran dan tanggung jawab pemerintah pusat dan
daerah. Daerah dengan kemampuan keuangan yang rendah akan mengalami kesulitan
untuk mengalokasikan anggaran kesehatannya.

 

Keterbatasan
tenaga dan biaya
.

Data
terbaru menunjukkan bahwa jumlah bidan di desa telah menurun. Dengan demikian
kelompok rentan dan miskin akan semakin sulit untuk mendapatkan pertolongan
persalinan. Selain itu, keterbatasan kemampuan finansial rumah tangga juga
telah menghambat akses ke pelayanan dasar. Oleh karenanya, inovasi mekanisme
yang meringankan beban keuangan rumah tangga sangat diperlukan untuk menjamin akses
mereka kepada pelayanan. Kebijakan dan Program

 

Prioritas
nasional
.

Penurunan
angka kematian ibu merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan
sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2004-2009. Untuk mencapai sasaran tersebut,
kebijakan pembangunan kesehatan terutama diarahkan pada peningkatan jumlah,
jaringan dan kualitas puskesmas disertai dengan peningkatan kualitas dan
kuantitas tenaga kesehatan.

 

Mengacu
pada Indonesia Sehat 2015, telah dicanangkan Making Pregnancy Safer (MPS), yang
terfokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam intervensi
klinis dan sistem kesehatan serta penekanan pada kemitraan. MPS ini dilakukan
dengan meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru
lahir; membangun kemitraan yang efektif melalui kerjasama lintas program dan
lintas sektor; mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga; dan mendorong
keterlibatan masyarakat.

 

Untuk
meningkatkan akses masyarakat miskin, kebijakan yang ditempuh adalah dengan
pengembangan sistem jaminan kesehatan. Metode layanan kesehatan ini telah
dimulai sejak terjadinya krisis eknonomi pada tahun 1998, melalui Program
Jaring Pengaman Sosial yaitu dengan memberikan pelayanan kesehatan gratis
kepada penduduk miskin. Dalam RPJMN 2004-2009, program ini terus dilanjutkan
dan ditingkatkan dengan sistem asuransi kesehatan pelayanan kesehatan gratis di
puskesmas dan jaringannya serta kelas III rumah sakit, termasuk di dalamnya
pemeriksaan ibu hamil dan persalinan baik normal maupun dengan persalinan
dengan penyulit.

 

Keberhasilan
pencapaian MDG’s harus dilaksanakan secara terpadu atau terintegrasi antara
Pemerintah Pusat, Daerah, Rumah Sakit dan Masyarakat.

 

Upaya Rumah Sakit
dilakukan melalui Pelayanan Emergency Ibu & Anak (PONEK), Penambahan
kapasitas NICU-PICU, Pemantauan bayi risiko tinggi (PERISTI), Pelatihan tenaga
kesehatan yang berhubungan dengan kegawatan Neonatal (In House Trainning),
Program sayang bayi, memberikan penyuluhan dan pelayanan mengenai imunisasi
pada bayi dan anak (Mis : campak pada pasien gizi kurang), penyuluhan tentang
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

 

Upaya diluar Rumah
Sakit dilakukan dalam bentuk kerjasama dengan Puskesmas untuk sistem rujukan
kasus kegawat daruratan anak, dan Pelatihan tenaga kesehatan (dokter umum,
bidan, perawat) mengenai penyakit – penyakit anak yang banyak dijumpai di
masyarakat, serta menyediakan akses kesehatan reproduksi secara merata.

 

Pemberian air susu
ibu atau ASI juga diwajibkan karena tidak hanya bermanfaat bagi bayi, tetapi
juga bagi sang ibu. Kesehatan ibu meningkat dan angka kematian ibu
pasca-persalinan bisa berkurang. Inisiasi menyusui dini (IMD), yakni meletakkan
bayi di atas perut ibu dan membiarkan bayi mencari puting susu ibunya sendiri,
ikut merangsang pelepasan oksitosin. Dengan menyusui, kesuburan ibu akan
menurun sehingga terhindar dari kehamilan dalam interval waktu singkat. Dengan
demikian, ibu berkesempatan mengembalikan kualitas kesehatannya dan merawat
bayinya secara maksimal.

”Saat bayi mengisap
payudara ibu, hormon oksitosin akan dilepaskan oleh tubuh dan merangsang rahim
untuk berkontraksi dan mengeluarkan sisa-sisa kotoran, termasuk plasenta.
Pendarahan juga akan berkurang,” ujar Ketua Bidang Kesehatan Ibu dan Anak
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, (IDI) Prof Ali Bazad. Hal itu
dikemukakannya dalam jumpa pers terkait peluncuran Gerakan Kesehatan Ibu dan
Anak Menuju Pencapaian Tujuan Pembangunan Milennium 2015 dan Lokakarya Nasional
”Konsolidasi Organisasi Nonpemerintah dalam Kesehatan Ibu dan Anak Menuju
Pencapaian MDG 2015”, Rabu (23/6).

 

Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia (AIMI) Jabar yang diketuai Dede Gemayuni, dengan didukung
oleh PKK Provinsi Jabar, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana
(BKPPB) Jabar melihat manfaat meningkatkan awareness tentang
ASI dan angka ibu menyusui.  Sebanyak 100 ibu rumah tangga menyusui bayi
mereka serentak dalam acara Peresmian Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI)
Jawa Barat di Aula Barat Gedung Sate, Bandung, Jawa Barat (Jabar), Sabtu (5/6).

 

Tiga faktor utama
penyebab kematian ibu dan bayi

1.       Faktor medik (langsung dan tidak langsung),

2.       Faktor sistem pelayanan (sistem pelayanan antenatal,
sistem pelayanan persalinan dan sistem pelayanan pasca persalinan dan pelayanan
kesehatan anak),

3.       Faktor ekonomi, sosial budaya dan peran serta
masyarakat (kurangnya pengenalan masalah, terlambatnya proses pengambilan
keputusan, kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan, pengarusutamaan
gender, dan peran masyarakat dalam kesehatan ibu dan anak)

 

Intervensi di
sektor Kesehatan

Upaya peningkatan
akses terhadap informasi dan kualitas pelayanan keluarga berencana, termasuk penanggulangan
aborsi. Upaya ini memberikan kontribusi 13% untuk penurunan AKI :

1.       Perbaikan kualitas pelayanan antenatal termasuk
deteksi dan manajemen anemia, pencegahan malaria, pengobatan infeksi cacing,
penanganan hipertensi, skrining infeksi menular seksual dan HIV/AIDS serta
pemberian imunisasi tetanus toxoid. Upaya ini dapat memberikan kontribusi
penurunan AKI dan AKB lebih kurang 10%.

2.       Perbaikan management persalinan, pasca persalinan,
pelayanan obsterik emergensi dasar dan komprehensif akan memberikan kontribusi
penurunan AKI dan AKB sebanyak 30-40%.

3.       Promosi petolongan persalinan oleh tenaga profesiona
di rumah dan di fasilitas pelayanan kesehatan.

4.       Perbaikan pertolongan persalinan di rumah oleh tenaga
non profesional.

5.       Perbaikan sistem rujukan.

6.       Peningkatan koordinasi pelayanan kesehatan reproduksi
dan manajemen infeksi menular seksual, HIV/AIDS.

 

Intervensi efektif
untuk mempercepat penurunan angka kematian neonatus dan bayi (Depkes dan
Perinasia, 2005) adalah
:

1.      
Pelayanan esensial neonatal yaitu:
pemberian ASI dini dan ekskusif, menjaga suhu tubuh neonatus tetap hangat,
mencegah infeksi,

2.      
Pemberian imunisasi dan manajemen
neonatus yang sakit.

3.      
Manajemen terpadu balita muda
(MTBM)

Upaya tersebut dapat
menurunkan angka kematian neonatal sampai 50%.

Untuk Anak Balita
intervensi yang efektif adalah Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) adalah :

1.       Beberapa Program Inovatif untuk mempercepat penurunan
AKI dan AKB yang pernah dilaksanakan pada daerah tertentu adalah:
Tahun 1994 sd
sekarang:Gerakan Sayang Ibu /GSI (Depkes-Depdagri)

2.       Tahun 1994 sd sekarang: Buku KIA (JICA)

3.       Tahun 1996 sd sekarang: Kangoro Mother Care /KMC
(PERINASIA)

4.       Tahun 1998-2004: Safe Motherhood:Partnership Family
Approach (World Bank)

5.       Tahun 2000-2003: Awal Sehat untuk Hidup Sehat /ASUH
(PATH-USAID)

6.       Tahun 2002-Juni 2006:Women Health and Family Welfare
(AusAid)

7.       Tahun 2004 sd sekarang: Pusat Informasi dan Konseling
Kesehatan Reproduksi Remaja/PIK-KRR (BKKBN).

 

Peran Perinasia

Telah banyak
pelatihan yang dilakukan baik di tingkat pusat maupun cabang bagi tenaga
kesehatan seperti dokter spesialis, dokter umum, bidan dan perawat untuk
mencapai target MDGs 2015, seperti pelatihan resusitasi neonatus, manajemen
laktasi, metode kangguru, penanganan BBLR, dan kesehatan reproduksi remaja.
Kesemua ini diharapkan adanya tenaga terampil yang dapat menunjang turunnya
angka kematian ibu dan bayinya dalam pencapaian MDGs 2015.

 

Pustaka

1.       Dikutip dari Laporan oleh: Marlia tgl 20 April 2009
dari UNPAD tentang Pemprov Jabar Ingin Tingkatkan Tenaga Kesehatan Terampil

2.       Dikutip dari Laporan oleh: Anton Sumantri tgl 9
Oktober 2009 dari UNPAD tentang Pembangunan Kesehatan di Jabar Terus
Ditingkatkan

3.       Dikutip dari Laporan oleh : Widodo tgl 9 Juni 2010 dari TRIBUNNEWS.COM,
JAKARTA t
entang Menuju Desa Siaga
Strata Utama Tahun 2013 di Kuningan, Jawa Barat, dicanangkan oleh Men Kes Dep
Kes RI

 

PROFIL

 

dr udin

Pembaca pada edisi
perdana kali ini kami memperkenalkan figur tokoh yang tidak asing lagi, dokter
yang “kasep” dan “kalem” ini adalah dr. Udin Sabarudin Rachman, SpOG(K), MM,
MHKes adalah seorang dokter spesialis Kebidanan dan Kandungan yang lahir di
Kuningan pada tanggal 31 Desember 1951. Saat ini beliau beralamat di jl.
Cicalengka Raya no. 10 Antapani Bandung. Dari pernikahannya dengan Dra. Elly
Siti Halimah, Msi, beliau dikaruniai dua orang anak yaitu dr. Sally Mahdiani,
dan Saldy Fitrianda, ST, MT.

 

Beliau mengenyam
pendidikan terakhir sebagai Magister Manajemen di Unpad pada tahun 2000 yang
lalu dan Konsultan Fetomaternal pada tahun 2003. Saat ini beliau masih aktif
sebagai Ketua Program Studi Dokter Spesialis (PPDS-1) Fakultas Kedokteran
Unpad, anggota Tim Kerjasama Fakultas Kedokteran Unpad, Ketua Komite Etik dan
Hukum RSUP. Hasan Sadikin, Bandung, dan beliau menjabat pula sebagai Ketua
PERINASIA Jawa Barat pada periode yang lalu yaitu dari tahun 2007-2010

 

Dalam kesehariannya
beliu memiliki hobi olah raga khususnya tenis lapangan, dengan motto hidupnya
“Time saving is live saving”, dan beliau memiliki cita-cita menjadi seorang
pendidik yang baik.

 

KALENDER ILMIAH

 

Rounded Rectangle: SIMPOSIUM KESEHATAN REMAJA
•	1 Agustus 2010 di Bandung

PELATIHAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA (KRR)
•	30 – 31 Oktober 2010 di Jakarta

PELATIHAN KONSELING KRR
•	6-7 Nopember 2010 di Jakarta

PELATIHAN PERAWATAN METODE KANGURU (MPK)
•	7-9 Agustus 2010 di Jakarta
•	23-25 Oktober 2010 di Jakarta
•	18-20 Desember 2010 di Jakarta

PELATIHAN PENATALAKSANAAN BBLR UNTUK YANKES LEVEL I-II
•	2-3 Oktober 2010 di Badar Lampung

PELATIHAN MANAJEMEN LAKTASI (PML)
•	1-2 Agustus 2010 di Yogyakarta
•	16-17 Oktober 2010 di Jakarta

PELATIHAN KONSELING MENYUSUI
•	4-8 Oktober 2010 di Jakarta
•	6-10 Desember 2010 di Jakarta

PELATIHAN RESUSITASI NEONATUS (PRN)
•	31 Juli-1 Agustus 2010 di Semarang
•	7-8 Agustus 2010 di Bekasi

 

BERITA ORGANISASI

 

Sabtu
pagi tanggal 3 Juli 2010 bertempat di Hotel Grand Pasundan Jl. Pelajar Pejuang
Bandung kepengurusan PERINASIA JAWA BARAT dilantik secara resmi oleh Ketua Umum
PERINASIA Pusat dr. Triatmo Rahimhadi, SpOG.

 

Pelantikan
pengurus PERINASIA Jawa Barat dihadiri oleh 17 orang pengurusnya yang dapat
hadir pada acara pelantikan tersebut. Kepengurusan PERINASIA Jawa Barat periode
2010-2013 kali ini diketuai oleh Prof. Dr. Sjarif Hidajat Effendi, dr., SpA(K)
dan Dr. Yusuf Sulaeman Effendi, dr., SpOG(K) sebagai wakil ketua.

 

Acara ini
berlangsung di sela-sela acara pelatihan Resusitasi Neonatus sebelum kegiatan
pelatihan dimulai. Ketua Umum PERINASIA Pusat dalam sambutannya mengharapkan
kepada kepengurusan PERINASIA Jawa Barat agar dapat berkiprah lebih baik lagi,
khususnya dalam pelaksanaan PMK dan MDG’s 2015.

 

 

Pengurus
Perinasia Jawa Barat

periode
2010- 2012

 

Dari kiri
ke kanan: Berdiri: dr. Irman Permana, SpA; dr. Wedi Iskandar, SpA; dr.
Aloysius, SpOG; dr. Fiva A. Kadi, SpA, MKes; dr. Yoke Ayukarningsing, SpA, dr.
Dewi Purnama, dr. Tisnasari Hafsah, dr. Dini Hidayat SpOG, dr. Dini
Pusianawati, dr., Zulvayanti, SpOG. Duduk: dr. Adhi Pribadi, SpOG; dr.
Aris Primadi, SpA(K), Prof. Dr. Johanes C. Mose, dr., SpOG; dr. Udin Sabarudin,
dr., SpOG; Prof. Dr. Sjarif Hidajat Effendi, dr., SpA(K); Prof. Dr. Jusuf
Sulaeman Effendi, dr., SpOG; dr. Triatmo, SpOG; Dr. Anita Deborah Anwar, dr.,
SpOG

 

 

 

Susunan
Pengurus Perinasia Cabang Jawa Barat Periode 2010-2013

 

Ketua : Prof. Dr.
Sjarif HidaJat Effendi, dr., SpA(K)

Wakil Ketua : Prof. Dr.Jusuf
Sulaeman Effendi, dr., SpOG(K)

Sekertaris : dr. Tetty
Yuniati, SpA(K), MKes

Wk. : dr. Fiva
Aprilia Kadi, SpA, Mkes

Bendahara : dr. Setyorini
Irianti, SpOG(K)

Wk. : dr. Dini
Hidayat, SpOG, MKes

 

Anggota Pengurus :

    
dr. Aris Primadi, SpA(K)

    
dr. Raddy Irmawan, SpA

    
dr. Dewi Purnama, SpA

    

dr. Adhi Pribadi, SpOG(K)

    
dr. M. Alamsyah, SpOG, MKes

    
Dra. Hj Tuty Nurhayati, Dipl.M.MKes

    
Hj. Mimin Rasmina, AMKeb

 

 

PANITIA TETAP (PANTAP) PERINASIA
CABANG JAWA BARAT

 

     
I.    
PELINDUNG

Ketua : Kepala Dinas
Kesehatan Propinsi Jawa Barat

Anggota :

  
Direktur Utama RS Hasan Sadikin
Bandung

  
Kepala Bagian Obstetri dan
Ginekologi FKUP/RSHS Bandung

  
Kepala Bagian IImu Kesehatan Anak
FKUP/RSHS Bandung

   
II.    
BIDANG ORGANISASI

Ketua : Prof. Dr. Abdurachman
Sukadi, dr., SpA(K)

Anggota : Prof. Dr. Sofie R. Krisnadi, dr.,
SpOG(K)

 
III.    
BIDANG ILMIAH DAN PERENCANAAN PROGRAM

Ketua : dr. Udin Sabarudin,
SpOG(K), MM, MH.Kes

Anggota : dr. Ali Usman, SpA(K)

 
IV.    
BIDANG PENDIDIKAN DAN PELATIHAN

Ketua : Prof. Johanes C. Mose dr., SpOG(K)

Anggota : Dr. Anita Deborah Anwar, dr., SpOG(K)

 

 

KORDINATOR PROGRAM

I.     
PROGRAM RESUSITAS NEONATUS

Ketua : dr. Aris Primadi, SpA(K)

Wakil : dr. Irman Permana, SpA

II.   
PROGRAM MANAJEMEN LAKTASI

Ketua : dr. Fiva A. Kadi, SpA, MKes

Wakil : dr. Amalia Siddiq, SpOG, MSI

III. 
PROGRAM PERAWATAN METODE
KANGURU

Ketua : dr. Dini Hidayat, SpOG, MKes

Wakil : dr. Tisnasari Hafsah, SpA

IV. 
PROGRAM PENATALAKSANAAN
BBLR

Ketua : dr. Tetty Yuniati, SpA(K), MKes

Wakil : dr. A. Yogi Pramatirta, SpOG, Mkes

V.   
PROGRAM KESEHATAN
REPRUDUKSI REMAJA

Ketua : Dr. Tono Djuwantono, dr, SpOG(K), MKes

Wakil : dr. Dini Pusianawati, SpOG

VI. 
PROGRAM KONSELING MENYUSUI

Ketua : Dr. Yoke Ayukarningsih, SpA

Wakil : dr. Zulvayanti, SpOG, MKes

VII.                                     
PROGRAM PENGENDALIAN
INFEKSI PERINATAL

Ketua : dr. Aloysius, SpOG

Wakil : dr.Wedi Iskandar, SpA

 

 

 

 

PERAWATAN METODE KANGURU

 

Oleh: Fiva
A Kadi

(Anggota
Perinasia Jawa Barat, staf Perinatologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS
Bandung)

 

PENDAHULUAN

Bayi baru lahir
harus melakukan adaptasi terhadap lingkungan di luar rahim. Proses adaptasi ini
diperberat dengan kelahiran bayi yang terlalu dini (prematur) atau berat badan
lahir rendah (BBLR). Di negara berkembang termasuk di negara Indonesia,
morbiditas dan mortalitas bayi lahir dengan berat bayi lahir rendah (BBLR)
masih tinggi, di Indonesia masih sekitar 14%.

 

Bayi dengan BBLR
merupakan penyebab utama kematian neonatal. Bayi prematur dan BBLR mempunyai
kebutuhan khusus diantaranya kebutuhan untuk mempertahankan kehangatan suhu
tubuh. Inkubator merupakan salah satu tempat yang dapat memenuhi kebutuhan
tersebut. Hampir di seluruh rumah sakit besar, perawatan BBLR menggunakan
fasilitas inkubator.

 

Hal ini banyak
menimbulkan kendala, disamping jumlahnya yang terbatas karena harganya mahal,
sering terjadi infeksi nosokomial pada BBLR karena perawatan rumah sakit yang
lama. Oleh karena itu diperlukan suatu metode praktis sebagai pengganti
inkubator yang dapat memenuhi kebutuhan bayi BBLR.

 

PERAWATAN METODE
KANGURU

Perawatan Metode
Kanguru (PMK) adalah suatu metode perawatan yang diilhami oleh cara kanguru
merawat anaknya yang selalu lahir premature. Prinsip dari PMK adalah bayi dalam
posisi tegak (upright) jika ibu berdiri, atau posisi berbaring (prone)
jika ibu berbaring, hanya memakai popok dan penutup kepala, didekap antara
kedua payudara ibu, bersentuhan kulit dengan kulit (skin to skin), dada
dengan dada, secara berkesinambungan. Perawatan metode kanguru (Kangaroo
Mother Care)
atau disebut juga asuhan kontak kulit dengan (skin to skin
contact)
terdiri dari 4 (empat) komponen yakni Kangoroo position

(posisi), Kangaroo nutrition (nutrisi), Kangaroo discharge
(keluar dari rumah sakit) dan Kangaroo support (dukungan keluarga).

 

MANFAAT PMK

Pelaksanaan
PMK mempunyai banyak manfaat. Manfaat tersebut dapat dirasakan oleh bayi, ibu,
petugas kesehatan dan pihak rumah sakit. Manfaat bagi bayi dapat berupa stabilisasi
suhu, pola pernafasan, dan denyut jantung; meningkatkan durasi tidur;
mempercepat peningkatan berat badan dan perkembangan otak dan meningkatkan
hubungan emosional ibu dan bayi.

 

Manfaat bagi
ibu dapat berupa mempermudah pemberian dan meningkatkan produksi ASI,
meningkatkan rasa percaya diri ibu dalam merawat bayi serta meningkatkan
hubungan emosional ibu dan bayi.

 

Sedangkan
manfaat bagi petugas kesehatan adalah mengurangi tenaga petugas kesehatan
karena bayi lebih lama dirawat oleh ibunya sehingga kebutuhan tenaga petugas
dapat dikurangi. Manfaat PMK bagi Rumah sakit adalah mempersingkat lama rawat
bayi karena bayi cepat pulang dan tempat tersebut dapat digunakan bagi klien
lain yang memerlukan (turn over meningkat, penghasilan RS bertambah);
pengurangan penggunaan fasilitas (listrik, inkubator, alat canggih lain) dapat
membantu efisiensi anggaran.

 

PMK di RS
HASAN SADIKIN

Pelaksanaan
PMK di RS Hasan Sadikin mulai dilaksanakan kembali sejak periode bulan April
2010. Setelah mengalami masa vakum yang cukup panjang sejak diperkenalkan oleh
Prof. Anna Alisjahbana, kemudian diaktifkan oleh dr.Ali Usman,SpA(K).

 

Saat ini PMK
mulai diaktifkan kembali dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) pembentukan
Tim PMK RS Hasan Sadikin yang diketuai oleh Prof. Sjarief Hidayat Efendi
SpA(K). Sejak bulan Maret 2010, mulai dilakukan pelaksanaan PMK di semua ruang
perawatan perinatologi.

 

 

Untuk
meningkatkan pemberdayaan tenaga dalam pelaksanaan PMK dilakukan inhouse training

bagi bidan dan perawat yang berhubungan langsung dengan pelaksaan PMK.
Pelatihan pertama dilakukan untuk 15 bidan dan perawat, dilakukan selama 1 hari
pada tangga 26 April 2010 sejak jam 08.00 WIB sampai 14.00 WIB. Fasilitator
terdiri dari dokter

spesialis
anak dan dokter spesialis kebidanan yang telah dilatih secara nasional.

 

Sejak
diaktifkannya kembali pada bulan Maret 2010 sampai bulan Juli 2010, sudah
dilakukan PMK pada lebih dari 20 bayi dengan berat badan antara 1400-2200 gram.
Pelaksaaan PMK dilakukan selama 2-3 hari pada masing-masing bayi.

 

 

Mengingat
besarnya manfaat perawatan metode kanguru baik bagi bayi, ibu maupun keluarga
serta pihak rumah sakit, mungkin dapat dipertimbangkan dilakukannya PMK pada
semua rumah sakit di Jawa Barat.

 

 

 

KATA MUTIARA MAMAH JUSTI

 

Rounded Rectangle: A SMILE
A smile costs nothing, but gives much. It enriches those who receive, without making poorer those who give. It takes but a moment, but the memory of it sometimes last forever

Rounded Rectangle: BERITA KELUARGA
Prof. Dr. Anna Alisjahbana, dr., SpA(K) baru saja sembuh dari sakit setelah diopname selama beberapa waktu dan saat ini sedang dalam masa pemulihan. Kita do’akan semoga beliau segera pulih dan dapat beraktivitas seperti biasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: